Paul si gurita peramal sukses menjaga rekor 100% setelah prediksinya kembali terbukti jitu. Tapi akibatnya dia kini jadi sasaran kebencian fans Jerman.
Enam laga dilakoni Jerman di Piala Dunia 2010. Enam kali pula Paul tepat memprediksi hasilnya.
Prediksi terakhir yang dibuat Paul adalah timnas Jerman, negara tempat di berada sekarang --gurita kelahiran Inggris itu kini berada di sebuah akuarium di kota Oberhausen, Jerman sebelah barat-- kalah dari Spanyol di semifinal.
"Ramalan" Paul jadi kenyataan setelah Spanyol melenggang ke final berkat gol sematawayang Carlos Puyol. Jerman gagal memelihara asa jadi juara.
Kenyataan ini jelas tak bikin senang para fans 'Der Panzer'. Si gurita yang tadinya jadi primadona kini malah seperti jadi kambing hitam dan dijadikan sasaran kekecewaan. Muncullah isu kalau Paul mati.
Rumor itu boleh jadi timbul karena "ide-ide seram" yang dilontarkan para fans yang kecewa. Harian 'Der Western' menyebut ada banyak komentar di situs jejaring sosial macam Facebook dan Twitter yang ingin Paul digoreng, dibarbekyu atau dijadikan makanan laut saja.
"Lainnya ingin dia dilempar ke kolam berisi ikan hiu," lanjut Der Western seperti dikutip situs FIFA.
Sejumlah foto-foto hasil rekaan yang berisikan riwayat Paul si gurita berakhir di wajan pun tak sedikit ditemukan. Jerman kini mendadak jadi anti-gurita.
Sumber : Disini ....
Tampilkan postingan dengan label Gaya Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gaya Hidup. Tampilkan semua postingan
Demam Piala Dunia, 11 Juta Perempuan Kehilangan ML
Alasannya, menyadur femalefirst, tak lain karena para pria lebih memilih duduk di sofa ruang teve atau kafe untuk menyaksikan satu demi satu pertandingan 32 negara yang berlaga di Piala Dunia 2010.
Pertama, 47% dari istri dan kekasih perempuan yang menghitung mundur pertandingan hingga partai final harus sendiri tanpa perhatian suami atau pasanganya. Perempuan jadi menerima sedikit perhatian dan jadi lebih banyak menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sendiri. Sementara suami atau pasangannya asyik menonton sepakbola.
Satu dari lima wanita pun mengatakan mereka tidak akan menonton satu menit pun pertandingan sepakbola bersama pasangannya. Kenyataan itu, karena harus berbagi teve, mereka harus mengorbankan menonton opera sabun favorit mereka. Tak mengenakkannya, hal itu membuat 45% kaum perempuan untuk sementara tak akan berbicara dengan pasangannya.
Seorang juru bicara 'Indesit' mengatakan bahwa Piala Dunia akan sangat sulit untuk diabaikan. Ajang kejuaraan sepakbola terbesar dunia empat tahunan ini membuat hampir seluruh kaum pria terperangkap dalam kegembiraan.
"Namun itu membuat para perempuan yang cenderung bukan penggemar sepak bola dunia terjepit di antara pertandingan 32 negara, selama empat pekan. Ini benar-benar akan menguji para istri dan perempuan unruk jauh lebih bersabar dan mengerti kebiasaan pacarnya," tuturnya
Akibatnya, banyak istri dan kekasih yang akan ditinggalkan pria saat makan malam, mengurus anak-anak.
Ia menambahkan, "Jadi Anda bisa mengerti mengapa begitu banyak istri dan kekasih yang menantikan semuanya berakhir. Itu tak lain karena para perempuan tak menginginkan hubungan seksualnya yang berkurang. Para perempuan ingin semuanya kembali ke keadaan normal.
Pertama, 47% dari istri dan kekasih perempuan yang menghitung mundur pertandingan hingga partai final harus sendiri tanpa perhatian suami atau pasanganya. Perempuan jadi menerima sedikit perhatian dan jadi lebih banyak menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sendiri. Sementara suami atau pasangannya asyik menonton sepakbola.
Satu dari lima wanita pun mengatakan mereka tidak akan menonton satu menit pun pertandingan sepakbola bersama pasangannya. Kenyataan itu, karena harus berbagi teve, mereka harus mengorbankan menonton opera sabun favorit mereka. Tak mengenakkannya, hal itu membuat 45% kaum perempuan untuk sementara tak akan berbicara dengan pasangannya.
Seorang juru bicara 'Indesit' mengatakan bahwa Piala Dunia akan sangat sulit untuk diabaikan. Ajang kejuaraan sepakbola terbesar dunia empat tahunan ini membuat hampir seluruh kaum pria terperangkap dalam kegembiraan.
"Namun itu membuat para perempuan yang cenderung bukan penggemar sepak bola dunia terjepit di antara pertandingan 32 negara, selama empat pekan. Ini benar-benar akan menguji para istri dan perempuan unruk jauh lebih bersabar dan mengerti kebiasaan pacarnya," tuturnya
Akibatnya, banyak istri dan kekasih yang akan ditinggalkan pria saat makan malam, mengurus anak-anak.
Ia menambahkan, "Jadi Anda bisa mengerti mengapa begitu banyak istri dan kekasih yang menantikan semuanya berakhir. Itu tak lain karena para perempuan tak menginginkan hubungan seksualnya yang berkurang. Para perempuan ingin semuanya kembali ke keadaan normal.
Label:
Gaya Hidup
Minum Kopi Bisa Mengurangi Risiko Diabetes
Washington - Sebuah tim ilmuwan melaporkan adanya bukti baru bahwa minum kopi dapat membantu mencegah diabetes, yang diperkirakan sebagian besar karena kandungan kafein dalam kopi. Ini merupakan temuan pertama yang secara jelas mengaitkan antara kafein dan diabetes, yang diperlihatkan pada percobaan terhadap binatang. Temuan ini dimuat di Journal of Agricultural and Food Chemistry, terbitan Masyarakat Kimia Amerika (ACS).Para peneliti, Fumihiko Horio dan rekannya, mencatat bahwa penelitian terakhir telah menunjukkan bahwa minum kopi secara teratur dapat mengurangi resiko diabetes tipe 2. Penyakit ini mempengaruhi jutaan orang di Amerika Serikat dan meningkat di seluruh dunia. Namun, hanya sedikit bukti yang berasal dari studi yang dilakukan terhadap hewan di laboratorium, yang digunakan untuk melakukan penelitian yang tidak dapat dilakukan pada manusia.
Para ilmuwan memberi makan kopi kepada sekelompok tikus di laboratorium yang biasa digunakan untuk mempelajari diabetes. Konsumsi kopi mencegah pengembangan gula darah tinggi dan juga meningkatkan sensitivitas insulin pada tikus, sehingga mengurangi risiko diabetes. Kopi juga memberikan manfaat lain yang menguntungkan berupa perubahan pada lemak hati dan radang adipocytokines yang berkaitan dengan penurunan risiko diabetes. Studi ini juga menunjukkan bahwa kafein mungkin "salah satu senyawa anti-diabetes yang paling efektif dalam kopi," kata para ilmuwan tersebut.
Sumber : Tempointeraktif
Para ilmuwan memberi makan kopi kepada sekelompok tikus di laboratorium yang biasa digunakan untuk mempelajari diabetes. Konsumsi kopi mencegah pengembangan gula darah tinggi dan juga meningkatkan sensitivitas insulin pada tikus, sehingga mengurangi risiko diabetes. Kopi juga memberikan manfaat lain yang menguntungkan berupa perubahan pada lemak hati dan radang adipocytokines yang berkaitan dengan penurunan risiko diabetes. Studi ini juga menunjukkan bahwa kafein mungkin "salah satu senyawa anti-diabetes yang paling efektif dalam kopi," kata para ilmuwan tersebut.
Sumber : Tempointeraktif
Label:
Gaya Hidup
Manfaat Kopi dan Teh untuk Jantung Anda
Para penggemar kopi dan teh tak perlu khawatir dengan jumlah konsumsi kedua minuman itu, baik banyak atau sedang, minum kopi dan teh diperkirakan bisa menurunkan risiko penyakit jantung. Begitulah kata sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology, jurnal Asosiasi Jantung Amerika, sebagaimana dikutip ScienceDaily 19 Juni 2010. Untuk teh, para peneliti di Belanda menemukan:
* Minum teh lebih 6 cangkir sehari berkaitan dengan risiko penyakit jantung yang lebih rendah 36 persen dibandingkan dengan mereka yang minum kurang dari satu cangkir teh per hari.
* Minum 3-6 cangkir teh per hari bisa menurunkan risiko kematian akibat penyakit jantung 45 persen, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi kurang dari satu cangkir per hari.
Adapun untuk kopi, mereka menemukan:
* Peminum kopi dengan tingkat asupan biasa saja, yakni dua sampai empat cangkir per hari, memiliki risiko 20 persen lebih rendah terkena penyakit jantung dibandingkan dengan mereka yang minum kurang dari dua cangkir atau lebih dari empat cangkir.
* Walaupun tidak dianggap signifikan, konsumsi kopi moderat ini sedikit mengurangi risiko kematian akibat penyakit jantung dan kematian dari segala sebab.
Para peneliti juga menemukan bahwa baik konsumsi kopi maupun teh punya pengaruh terhadap risiko stroke.
"Sementara studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa kopi dan teh tampaknya mengurangi risiko penyakit jantung, bukti risiko stroke dan risiko kematian akibat penyakit jantung tidak meyakinkan," kata Yvonne T. van der Schouw, Ph.D., penulis penelitian senior dan profesor epidemiologi penyakit kronis di Pusat Ilmu Kesehatan dan Perawatan Primer Julius, Universitas Kedokteran Pusat Utrecht, Belanda. "Hasil penelitian kami menemukan manfaat dari minum kopi dan teh terjadi tanpa meningkatkan risiko stroke atau kematian dari segala sebab."
Van der Schouw dan rekannya menggunakan kuesioner untuk mengevaluasi konsumsi kopi dan teh di antara 37.514 peserta.
Para peneliti menyebutkan bahwa manfaat minum teh terhadap kardiovaskular bisa dijelaskan dengan antioksidan. Flavonoid dalam teh diduga berkontribusi mengurangi risiko, namun mekanisme yang mendasarinya masih belum diketahui.
ScienceDaily/Ngarto Februana
Berita Lain tentang Manfaat Kopi bagi Kesehatan:
Kopi Rebus Bisa Menurunkan Risiko Kanker Payudara
* Minum teh lebih 6 cangkir sehari berkaitan dengan risiko penyakit jantung yang lebih rendah 36 persen dibandingkan dengan mereka yang minum kurang dari satu cangkir teh per hari.
* Minum 3-6 cangkir teh per hari bisa menurunkan risiko kematian akibat penyakit jantung 45 persen, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi kurang dari satu cangkir per hari.
Adapun untuk kopi, mereka menemukan:
* Peminum kopi dengan tingkat asupan biasa saja, yakni dua sampai empat cangkir per hari, memiliki risiko 20 persen lebih rendah terkena penyakit jantung dibandingkan dengan mereka yang minum kurang dari dua cangkir atau lebih dari empat cangkir.
* Walaupun tidak dianggap signifikan, konsumsi kopi moderat ini sedikit mengurangi risiko kematian akibat penyakit jantung dan kematian dari segala sebab.
Para peneliti juga menemukan bahwa baik konsumsi kopi maupun teh punya pengaruh terhadap risiko stroke.
"Sementara studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa kopi dan teh tampaknya mengurangi risiko penyakit jantung, bukti risiko stroke dan risiko kematian akibat penyakit jantung tidak meyakinkan," kata Yvonne T. van der Schouw, Ph.D., penulis penelitian senior dan profesor epidemiologi penyakit kronis di Pusat Ilmu Kesehatan dan Perawatan Primer Julius, Universitas Kedokteran Pusat Utrecht, Belanda. "Hasil penelitian kami menemukan manfaat dari minum kopi dan teh terjadi tanpa meningkatkan risiko stroke atau kematian dari segala sebab."
Van der Schouw dan rekannya menggunakan kuesioner untuk mengevaluasi konsumsi kopi dan teh di antara 37.514 peserta.
Para peneliti menyebutkan bahwa manfaat minum teh terhadap kardiovaskular bisa dijelaskan dengan antioksidan. Flavonoid dalam teh diduga berkontribusi mengurangi risiko, namun mekanisme yang mendasarinya masih belum diketahui.
ScienceDaily/Ngarto Februana
Berita Lain tentang Manfaat Kopi bagi Kesehatan:
Kopi Rebus Bisa Menurunkan Risiko Kanker Payudara
Label:
Gaya Hidup
Kafein Tidak Membuat Anda Terjaga
Bristol - Jika Anda akan begadang dan memutuskan meminum kopi dalam porsi yang besar, Anda harus berpikir ulang. Karena penelitian di Inggris menyebutkan dugaan bahwa kafein membuat kita lebih segar sehingga tetap terjaga ternyata tidak benar.
Orang yang sering mengkonsumsi kopi, menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal Neuropsychopharmacology itu, justru akan mengalami toleransi baik terhadap efek kegelisahan yang dihasilkan kafein maupun efek stimulasi dari kafein.
Ketika peminum kopi merasakan kesegaran yang dianggap karena kafein, penelitian ini justru menyimpulkan bahwa itu hanya tanda dari pembalikan efek kelelahan akibat mengkonsumsi kafein. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa kafein juga meningkatkan kegelisahan dan tekanan darah.
Dr. Peter Rogers, dari Jurusan Psikologi Eksperimental di Universitas Bristol, Inggris, kepada media mengatakan, "Penelitian kami menunjukkan tidak ada keuntungan yang didapat dari meminum kafein – walaupun kita merasa segar karena kafein, tetapi justru kafeinlah yang mengembalikan kita pada keadaan 'normal'.”
“Pada sisi lain, ketika kafein dapat meningkatkan kegelisahan, berarti daya tahan penikmat kafein terhadap efek ini menjadi hilang,” dia menambahkan.
Untuk studi ini, para peneliti merekrut 379 orang yang setengahnya terdiri dari orang yang mengkonsumsi sedikit kopi atau tidak sama sekali dan setengahnya lagi kelompok orang yang sedang atau banyak mengkonsumsi kopi (beberapa gelas kopi yang besar).
Namun para peneliti tersebut menemukan bahwa dalam 16 jam hanya terdapat perbedaan tingkat kesegaran yang sedikit di antara konsumen kafein itu.
Setelah memberikan sampel darah untuk uji genetis, semua orang yang diteliti diminta tidak meminum kopi selama 16 jam lalu meminum 100 miligram kafein. Sembilan puluh menit kemudian mereka meminum 150 miligram kafein.
Peneliti kemudian membuat peringkat kegelisahan, kesegaran, dan sakit kepala sebelum dan sesudah meminum kopi dengan menggunakan Skala Sensasi Fisik, Kesegaran, dan Suasana Hati (MAPSS) melalui komputer. Kesimpulannya, kafein tidak menghasilkan kesegaran.
Sumber : Tempointeraktif
Orang yang sering mengkonsumsi kopi, menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal Neuropsychopharmacology itu, justru akan mengalami toleransi baik terhadap efek kegelisahan yang dihasilkan kafein maupun efek stimulasi dari kafein.
Ketika peminum kopi merasakan kesegaran yang dianggap karena kafein, penelitian ini justru menyimpulkan bahwa itu hanya tanda dari pembalikan efek kelelahan akibat mengkonsumsi kafein. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa kafein juga meningkatkan kegelisahan dan tekanan darah.
Dr. Peter Rogers, dari Jurusan Psikologi Eksperimental di Universitas Bristol, Inggris, kepada media mengatakan, "Penelitian kami menunjukkan tidak ada keuntungan yang didapat dari meminum kafein – walaupun kita merasa segar karena kafein, tetapi justru kafeinlah yang mengembalikan kita pada keadaan 'normal'.”
“Pada sisi lain, ketika kafein dapat meningkatkan kegelisahan, berarti daya tahan penikmat kafein terhadap efek ini menjadi hilang,” dia menambahkan.
Untuk studi ini, para peneliti merekrut 379 orang yang setengahnya terdiri dari orang yang mengkonsumsi sedikit kopi atau tidak sama sekali dan setengahnya lagi kelompok orang yang sedang atau banyak mengkonsumsi kopi (beberapa gelas kopi yang besar).
Namun para peneliti tersebut menemukan bahwa dalam 16 jam hanya terdapat perbedaan tingkat kesegaran yang sedikit di antara konsumen kafein itu.
Setelah memberikan sampel darah untuk uji genetis, semua orang yang diteliti diminta tidak meminum kopi selama 16 jam lalu meminum 100 miligram kafein. Sembilan puluh menit kemudian mereka meminum 150 miligram kafein.
Peneliti kemudian membuat peringkat kegelisahan, kesegaran, dan sakit kepala sebelum dan sesudah meminum kopi dengan menggunakan Skala Sensasi Fisik, Kesegaran, dan Suasana Hati (MAPSS) melalui komputer. Kesimpulannya, kafein tidak menghasilkan kesegaran.
Sumber : Tempointeraktif
Label:
Gaya Hidup
Manfaat Kopi untuk Melindungi Diri Melawan Kanker Kepala dan Leher
Salt Lake City - Hasil studi baru-baru ini menambah bukti bahwa kopi bisa melindungi terhadap kanker kepala dan leher.
Hasil studi ini diterbitkan online di jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention terbitan Asosiasi Penelitian Kanker Amerika.nalisis yang dikumpulkan dari sembilan studi sebelumnya yang dihimpun oleh International Head and Neck Cancer Epidemiology (INHANCE), peserta yang minum kopi secara reguler, yaitu, mereka yang minum empat cangkir atau lebih, memiliki penurunan 39 persen risiko kanker rongga mulut dan kanker pharynx, dibandingkan dengan mereka yang tidak minum kopi.
Data mengenai kopi bebas kafein terlalu jarang untuk analisis secara terperinci, tetapi tidak menunjukkan peningkatan risiko. Adapun asupan teh tidak berhubungan dengan risiko kanker dan kanker leher.
Keterkaitan yang lebih kuat terlihat di antara mereka yang mengkonsumsi lebih dari empat cangkir kopi sehari.
Pemimpin penelitian ini, Mia Hashibe, Ph.D., asisten profesor di Universitas Utah, Salt Lake City, mengatakan, "Apa yang menjadikan hasil studi kami sangat unik adalah bahwa kami memiliki ukuran sampel yang sangat besar, dan karena kami menggabungkan data melalui banyak penelitian, kami memiliki kekuatan statistik untuk mendeteksi hubungan antara kanker dan kopi."
Studi sebelumnya oleh peneliti dari Harvard menunjukkan bahwa orang yang minum kopi memiliki risiko kanker prostat 60 persen lebih rendah daripada pria yang tidak minum kopi.
Hasil studi lain yang diterbitkan Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention edisi Januari menunjukkan penurunan risiko gliomas, atau tumor otak, yang terkait dengan kopi. Keterkaitan ini ditemukan di antara mereka yang minum lima cangkir kopi atau teh setiap hari, menurut para peneliti dari Imperial College, London.
Sumber : Tempointeraktif
Hasil studi ini diterbitkan online di jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention terbitan Asosiasi Penelitian Kanker Amerika.nalisis yang dikumpulkan dari sembilan studi sebelumnya yang dihimpun oleh International Head and Neck Cancer Epidemiology (INHANCE), peserta yang minum kopi secara reguler, yaitu, mereka yang minum empat cangkir atau lebih, memiliki penurunan 39 persen risiko kanker rongga mulut dan kanker pharynx, dibandingkan dengan mereka yang tidak minum kopi.
Data mengenai kopi bebas kafein terlalu jarang untuk analisis secara terperinci, tetapi tidak menunjukkan peningkatan risiko. Adapun asupan teh tidak berhubungan dengan risiko kanker dan kanker leher.
Keterkaitan yang lebih kuat terlihat di antara mereka yang mengkonsumsi lebih dari empat cangkir kopi sehari.
Pemimpin penelitian ini, Mia Hashibe, Ph.D., asisten profesor di Universitas Utah, Salt Lake City, mengatakan, "Apa yang menjadikan hasil studi kami sangat unik adalah bahwa kami memiliki ukuran sampel yang sangat besar, dan karena kami menggabungkan data melalui banyak penelitian, kami memiliki kekuatan statistik untuk mendeteksi hubungan antara kanker dan kopi."
Studi sebelumnya oleh peneliti dari Harvard menunjukkan bahwa orang yang minum kopi memiliki risiko kanker prostat 60 persen lebih rendah daripada pria yang tidak minum kopi.
Hasil studi lain yang diterbitkan Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention edisi Januari menunjukkan penurunan risiko gliomas, atau tumor otak, yang terkait dengan kopi. Keterkaitan ini ditemukan di antara mereka yang minum lima cangkir kopi atau teh setiap hari, menurut para peneliti dari Imperial College, London.
Sumber : Tempointeraktif
Label:
Gaya Hidup
Swinger Sangat Berisiko Tertular Penyakit Seksual
Geleen - Sebuah penelitian di Belanda menemukan bahwa swinger--orang dewasa heteroseksual yang suka tukar pasangan di klub seks - lebih berisiko terhadap penyakit seksual menular (PMS) dibandingkan dengan remaja dan gay atau pria biseksual; keduanya dianggap sebagai kelompok yang berisiko tinggi terjangkit herpes, HIV, dan klamidia.
"Di klinik kami, kami mulai mencatat bahwa ada beberapa orang yang menyebut diri mereka swinger yang tampaknya terkena PMS lebih sering daripada heteroseksual lainnya," kata Anne-Marie Niekamprekan, salah satu peneliti dari Pusat Layanan Kesehatan Kemasyarakat Limburg Selatan di Geleen, Belanda. "Data ilmiah tentang topik ini tidak tersedia. Swinger tampaknya tidak hanya sebuah populasi tersembunyi dalam masyarakat tetapi juga dalam ilmu pengetahuan dan perawatan kesehatan."
Penelitian ini dipublikasikan oleh jurnal Sexually Transmitted Infections edisi online 23 Juni 2010.
Para peneliti mengumpulkan data tentang hampir 9.000 pasien yang berkunjung di tiga klinik penyakit seksual antara tahun 2007 dan 2008. Sekitar satu dari sembilan pasien, atau 12 persen, dilaporkan menjadi seorang swinger. Rata-rata usia mereka adalah 43 tahun.
Sekitar 55 persen dari semua pasien yang diagnosis terkena klamidia dan gonorea (kencing nanah) telah diidentifikasi sebagai swinger, sementara 31 persen pria gay. Secara keseluruhan, satu dari 10 swinger terkena klamidia sementara sekitar satu dari 20 terbukti positif terjangkit gonorea.
Swinger usia di atas 45 tahun memiliki tingkat lebih tinggi terjangkit PMS ketimbang swinger di bawah 45 tahun, menurut penelitian ini.
Sekitar 10,4 persen swinger laki-laki usia di atas 45 tahun telah terjangkit klamidia dan atau gonorea, sementara pria heteroseksual lainnya yang terkena klamidia hanya 2,4 persen. Tingkat klamidia pada pria gay atau biseksual adalah 14,6 persen.
Adapun swinger wanita di atas 45 tahun, hampir 18 persen terkena klamidia, sedangkan perempuan heteroseksual lainnya 4 persen, pelacur kurang dari 3 persen.
Dr H. Hunter Handsfield, profesor kedokteran di Pusat AIDS dan Penyakit Seksual Menular Universitas Washington, mengatakan beralasan bahwa swinger mungkin lebih berisiko terhadap penyakit menular seksual daripada kelompok lain, dan bukan hanya karena banyaknya pasangan seks. Melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu orang, pada waktu atau berganti-ganti dengan cepat, mendorong penyebaran PMS, kata Handsfield.
Diperkirakan jutaan orang mempraktikkan swinger. Swingers Date Club, situs kencan untuk para swinger, misalnya, memperkirakan ada jutaan di seluruh dunia; sekitar 30.000 orang di Belanda telah mengirim profilnya secara online.
Sementara itu, Dr Cynthia Krause, ahli kebidanan dan ginekologi di Sekolah Kedokteran Mount Sinai di New York, mencatat bahwa tingkat klamidia dan gonorea di kalangan swinger perempuan enam kali lebih tinggi dari pelacur.
Sumber : Tempointeraktif
"Di klinik kami, kami mulai mencatat bahwa ada beberapa orang yang menyebut diri mereka swinger yang tampaknya terkena PMS lebih sering daripada heteroseksual lainnya," kata Anne-Marie Niekamprekan, salah satu peneliti dari Pusat Layanan Kesehatan Kemasyarakat Limburg Selatan di Geleen, Belanda. "Data ilmiah tentang topik ini tidak tersedia. Swinger tampaknya tidak hanya sebuah populasi tersembunyi dalam masyarakat tetapi juga dalam ilmu pengetahuan dan perawatan kesehatan."
Penelitian ini dipublikasikan oleh jurnal Sexually Transmitted Infections edisi online 23 Juni 2010.
Para peneliti mengumpulkan data tentang hampir 9.000 pasien yang berkunjung di tiga klinik penyakit seksual antara tahun 2007 dan 2008. Sekitar satu dari sembilan pasien, atau 12 persen, dilaporkan menjadi seorang swinger. Rata-rata usia mereka adalah 43 tahun.
Sekitar 55 persen dari semua pasien yang diagnosis terkena klamidia dan gonorea (kencing nanah) telah diidentifikasi sebagai swinger, sementara 31 persen pria gay. Secara keseluruhan, satu dari 10 swinger terkena klamidia sementara sekitar satu dari 20 terbukti positif terjangkit gonorea.
Swinger usia di atas 45 tahun memiliki tingkat lebih tinggi terjangkit PMS ketimbang swinger di bawah 45 tahun, menurut penelitian ini.
Sekitar 10,4 persen swinger laki-laki usia di atas 45 tahun telah terjangkit klamidia dan atau gonorea, sementara pria heteroseksual lainnya yang terkena klamidia hanya 2,4 persen. Tingkat klamidia pada pria gay atau biseksual adalah 14,6 persen.
Adapun swinger wanita di atas 45 tahun, hampir 18 persen terkena klamidia, sedangkan perempuan heteroseksual lainnya 4 persen, pelacur kurang dari 3 persen.
Dr H. Hunter Handsfield, profesor kedokteran di Pusat AIDS dan Penyakit Seksual Menular Universitas Washington, mengatakan beralasan bahwa swinger mungkin lebih berisiko terhadap penyakit menular seksual daripada kelompok lain, dan bukan hanya karena banyaknya pasangan seks. Melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu orang, pada waktu atau berganti-ganti dengan cepat, mendorong penyebaran PMS, kata Handsfield.
Diperkirakan jutaan orang mempraktikkan swinger. Swingers Date Club, situs kencan untuk para swinger, misalnya, memperkirakan ada jutaan di seluruh dunia; sekitar 30.000 orang di Belanda telah mengirim profilnya secara online.
Sementara itu, Dr Cynthia Krause, ahli kebidanan dan ginekologi di Sekolah Kedokteran Mount Sinai di New York, mencatat bahwa tingkat klamidia dan gonorea di kalangan swinger perempuan enam kali lebih tinggi dari pelacur.
Sumber : Tempointeraktif
Label:
Gaya Hidup
Ditemukan Mekanisme Otak yang Mendorong Keberanian
Israel - Para ilmuwan dari Israel telah menemukan secara detail mekanisme otak yang berhubungan dengan keberanian. Temuan ini dimuat di jurnal Neuron, 24 Juni 2010.
Peneliti menggunakan MRI fungsional untuk memindai aktivitas otak para sukarelawan ketika mereka memutuskan apakah akan memindahkan sebuah beruang mainan atau ular jagung hidup lebih dekat atau lebih jauh dari mereka. Sebelum penelitian ini, para peserta telah diklasifikasikan sebagai "takut" atau "tidak takut" berdasarkan kuesioner tentang ketakutan terhadap ular.Hasil scan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas di daerah otak yang disebut subgenual anterior cingulate cortex (sgACC) ketika peserta memilih untuk bertindak berani.
Pemimpin penelitian, Dr Yadin Dudai, dari Institut Ilmu Pengetahuan Weizmann, mengatakan, "Hasil penelitian kami mengajukan sebuah penjelasan mengenai proses dan mekanisme otak yang mendukung aspek menarik dari perilaku manusia, kemampuan untuk melakukan tindakan sukarela yang berlawanan dengan yang didorong oleh ketakutan terus-menerus, yaitu keberanian."
Peneliti mengatakan bahwa temuan ini menggambarkan pentingnya mempertahankan aktivitas sgACC yang tinggi untuk mengatasi rasa takut terus-menerus.
Sumber : Tempointeraktif
Peneliti menggunakan MRI fungsional untuk memindai aktivitas otak para sukarelawan ketika mereka memutuskan apakah akan memindahkan sebuah beruang mainan atau ular jagung hidup lebih dekat atau lebih jauh dari mereka. Sebelum penelitian ini, para peserta telah diklasifikasikan sebagai "takut" atau "tidak takut" berdasarkan kuesioner tentang ketakutan terhadap ular.Hasil scan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas di daerah otak yang disebut subgenual anterior cingulate cortex (sgACC) ketika peserta memilih untuk bertindak berani.
Pemimpin penelitian, Dr Yadin Dudai, dari Institut Ilmu Pengetahuan Weizmann, mengatakan, "Hasil penelitian kami mengajukan sebuah penjelasan mengenai proses dan mekanisme otak yang mendukung aspek menarik dari perilaku manusia, kemampuan untuk melakukan tindakan sukarela yang berlawanan dengan yang didorong oleh ketakutan terus-menerus, yaitu keberanian."
Peneliti mengatakan bahwa temuan ini menggambarkan pentingnya mempertahankan aktivitas sgACC yang tinggi untuk mengatasi rasa takut terus-menerus.
Sumber : Tempointeraktif
Label:
Gaya Hidup
Lama Hubungan Seks yang Paling Diidamkan 7-13 Menit
Sebuah survei yang dilakukan di Amerika Serikat menyimpulkan lama waktu bersetubuh yang paling diimpikan adalah tujuh sampai 13 menit.
Survei tersebut menyatakan waktu bersetubuh satu sampai dua menit ‘terlalu pendek’ dan tiga sampai tujuh menit dianggap ‘cukup’. Dan berlawanan dengan fantasi seks yang berkembang selama ini, bersetubuh selama 10 sampai 30 menit dianggap ‘terlalu lama’.Para peneliti mensurvei 50 anggota Society for Sex Therapy and Research (Masyarakat untuk Terapi Seks dan Penelitian). Mereka terdiri dari para psikologis, pekerja sosial, sampai perawat.
Penulis hasil survei tersebut, Eric Corty dan Jenay Guardiani dari Penn State University, mengatakan, “Penafsiran seorang pria atau wanita terhadap fungsi seksnya maupun pasangannyaa tergantung pada kepercayaan pribadi yang muncul karena pesan-pesan di masyarakat baik formal maupun informal.”
“Sayangnya, budaya populer saat ini menekankan berbagai stereotipe soal aktivitas seksual,” lanjut mereka seperti dikutip Daily Mail, Kamis (24/6). “Mayoritas pria dan wanita percaya fantasi mengenai penis besar dan bersetubuh semalam penuh.”
Penelitian mereka sebelumnya menemukan kebanyakan pria dan wanita ingin seks berlangsung 30 menit atau lebih lama lagi. Namun, Corty mengatakan, “Situasi tersebut mungkin memicu kekecewaan dan ketidakpuasan.”
“Dengan survei ini, kami berharap bisa memupuskan fantasi-fantasi seperti di atas dan memberikan para pria dan wanita data realistik yang ada mengenai seks. Sehingga, itu bisa mencegah kekecewaan seks dan disfungsi seks.”
Hasil survei tersebut juga memiliki implikasi untuk pengobatan bagi orang-orang yang mengalami masalah seks.
“Jika seorang pasien khawatir mengenai berapa lama seksnya akan bertahan, data ini bisa membantu pasien menepis kekhawatiran mengenai masalah fisik dan itu bisa diobati hanya dengan penyuluhan, tanpa obat,”
Sumber : Tempointeraktif
Survei tersebut menyatakan waktu bersetubuh satu sampai dua menit ‘terlalu pendek’ dan tiga sampai tujuh menit dianggap ‘cukup’. Dan berlawanan dengan fantasi seks yang berkembang selama ini, bersetubuh selama 10 sampai 30 menit dianggap ‘terlalu lama’.Para peneliti mensurvei 50 anggota Society for Sex Therapy and Research (Masyarakat untuk Terapi Seks dan Penelitian). Mereka terdiri dari para psikologis, pekerja sosial, sampai perawat.
Penulis hasil survei tersebut, Eric Corty dan Jenay Guardiani dari Penn State University, mengatakan, “Penafsiran seorang pria atau wanita terhadap fungsi seksnya maupun pasangannyaa tergantung pada kepercayaan pribadi yang muncul karena pesan-pesan di masyarakat baik formal maupun informal.”
“Sayangnya, budaya populer saat ini menekankan berbagai stereotipe soal aktivitas seksual,” lanjut mereka seperti dikutip Daily Mail, Kamis (24/6). “Mayoritas pria dan wanita percaya fantasi mengenai penis besar dan bersetubuh semalam penuh.”
Penelitian mereka sebelumnya menemukan kebanyakan pria dan wanita ingin seks berlangsung 30 menit atau lebih lama lagi. Namun, Corty mengatakan, “Situasi tersebut mungkin memicu kekecewaan dan ketidakpuasan.”
“Dengan survei ini, kami berharap bisa memupuskan fantasi-fantasi seperti di atas dan memberikan para pria dan wanita data realistik yang ada mengenai seks. Sehingga, itu bisa mencegah kekecewaan seks dan disfungsi seks.”
Hasil survei tersebut juga memiliki implikasi untuk pengobatan bagi orang-orang yang mengalami masalah seks.
“Jika seorang pasien khawatir mengenai berapa lama seksnya akan bertahan, data ini bisa membantu pasien menepis kekhawatiran mengenai masalah fisik dan itu bisa diobati hanya dengan penyuluhan, tanpa obat,”
Sumber : Tempointeraktif
Label:
Gaya Hidup
Langganan:
Postingan (Atom)